Senin, 28 Maret 2011

Sajak pertemuan Mahasiswa-WS Rendra


Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya :
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
Jakarta 1 Desember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi..

Senin, 21 Maret 2011

PUISI DIKUTUK JADI TAI


DIKUTUK JADI TAI

Karya ; Taofik F.S




Kami peduli pada negeri ini
Meski negeri ini sama sekali tak peduli pada kami
Pak mentri, dasi yang kau pakai uang kami
Meski pasti bukan hanya dasi

Sepertinya pak mentri tuli, tak tau balas budi
Janji - janji kepada kami pak mentri ingkari
Pak mentri, kami bosan tidur di pasir
widih, pak mentri malah asik korupsi

Andai saja jadi polisi tak ada pungli
Akan ku isolasi pak mentri dibalik jeruji
20x lebih lama dari pencuri sapi
Agar pak mentri tak lagi mimi whisky uang kami

Pak mentri yang baik hati berhentilah korupsi
Agar caci maki dari kami hanya mimpi pak mentri
Agar kami tak lagi mendoakan pak mentri dikutuk jadi tai





                                                                              Jatinangor, 23 February 2010